SARIGADING, tenun khas kalsel nilai seni budaya dan nilai spritualnya

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 6/3 (ANTARA)  Berbagai cara dilakukan untuk pengobatan bagi masyarakat pedesaan, khususnya di berbagai wilayah pedalaman Kalimantan Selatan, diaantaranya memanfaatkan sebuah kain tenun. Kain tenun yang khusus untuk obat itu dipakai maka dipercayai menyembuhkan suatu penyakit yang sulit disembuhkan melalui medis, itulah sebuah kepercayaan masyarakat khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Kain tenun yang disebut Sarigading, bagi sebagian orang yang dipercayai begitu ampuhnya mengobati penyakit yang dianggap sulit disembuhkan.
“Penyakit yang dianggap tak bisa disembuhkan secara medis tersebut adalah penyakit yang dianggap karena keturunan, makanya pengobatannya harus menggunakan kain tenun Sarigading,” kata Noor Saidah seorang pembuat kain tenun Sarigading.
Saidah mengaku sering kedatangan tamu yang minta dibuatkan kain sarigading sebagai syarat untuk penyembuhan penyakit, meski dia sendiri tidak tahu ikhwal mengapa kain tenun ini bisa menjadi syarat berobat.
“Mereka mengaku sembuh setelah memakai kain tenun saya” ujar Noor Saidah.
Namun yang pasti hanya orang tertentu saja yang menggunakan kain tenun Sarigading ini sebagai media berobat oleh sebab leluhur mereka dulu juga menggunakan kain ini,tambahnya.
Ia mengakui kegiatan menenun Kain Sarigading sudah diwarisi keluarganya sejak enam generasi berawal pada Penjajahan Jepang.


Kala itu cerita Saidah Jepang melarang masyarakat HSU menggunakan kain tekstil sehingga mendorong masyarakat menenun kain sendiri secara sembunyi sembunyi.
“Bila tidak membuat kain tenun sendiri warga kala itu terpaksa menggunakan bahan seadanya untuk menutupi tubuh mereka” tutur Saidah.      Untungnya, lanjut dia, kegiatan tenun menenun kain ini sudah diwarisi Masyarakat HSU sejak zaman Kerajaan Negara Dipa abad 16 Masehi, meski sempat mundur kala Kolonial Belanda memperkenalkan produk kain tekstil.
Kain Sarigading, kata dia menggunakan Benang Mandar yang dicelup menggunakan pewarna alami, misal dari jenar (kunyit) dan lainnya.
“Semakin bermotif, kain Sarigading semakin mahal” kata Saidah yang ahli membuat Kain Sari Gading aneka motif dan lima warna, dimana harga Kain bermotif ia jual Rp100 ribu per potong, jika tanpa motif Rp70 ribu per potong.
Kain Sarigading yang hanya satu warna kuning menurutnya kini sudah seberapa laku, yang eksis dicari orang adalah Kain Sarigading lima warna yang bermotif.
Saidah mengaku, kain tenunnya dan peralatan tenunnya pernah diminta pihak Museum Propinsi Kalsel Kota Banjar Baru untuk dijadikan koleksi budaya.
Karena Pemprop Kalsel juga mulai menyadari mulai langkanya hasil tenun kain jenis ini yang harus tetap dilestarikan.
Hanya saja katanya,  kain tenun Sarigading khas Kabupaten Hulu Sungai Utara HSU Kalimantan Selatan belakangan ini terancam punah, karena itu diperlukan perhatian pemerintah untuk menyelamatklan kerajinan tersebut.
Kain tenun Sarigading HSU mulai dilupakan setelah kian derasnya masuk produk kain tekstil luar, kata  Noor Saidah Penenun kain Sarigading di Desa Sungai Tabukan.
Para pelaku keraijnan kain tenun inipun kini tersia hanya di dua desa, yaitu Desa Pandulangan Kecamatan Sungai Pandan-Alabio dan Desa Sungai Tabukan di Kecamatan Sungai Tabukan.
Kain tenun Sarigading menjadi langka karena fungsi kain tenun ini kebanyakan hanya dikembangkan untuk peralatan prosesi pengobatan tradisonal yang diwarisi turun-temurun dan bukan untuk tujuan komersil.
Berdasarkan catatan, bagi masyarakat Kalimantan Selatan selain memanfaatkan kain tenun Sarigading untuk pengobatan juga yang lebih terkenal adalah kain khas Sasirangan.
Menurut Muhamad seorang tokoh masyarakat Banjarmasin kain sasirangan lebih banyak digunakan untuk pengobatan karena dulu sering dipakai dalam pengobatan pihak kerajaan Banjar.
Tetapi nasib kain Sasirangan lebih beruntung ketimbang kain tenun Sarigading, setelah dimodifikasi sedemikian rupa maka kain Sasirangan menjadi batik khas Kalsel dan sekarang menjadi ikon cenderamata wisatawan ke wilayah ini.
Setelah kian dimintai maka kain Sasirangan terus berkembang bahkan industri kain inipun kian maju pula dengan lokasi -lokasi penjualan yang terus menjamur di wilayah Banjarmasin dan kota lainnya.
Melihat kenyataan tersebut hendaknya pemerintah terus mempertahankan budaya kain tenun itu, setidaknya untuk kain tenun Sarigading kalau bisa juga dimodifikasi yang lebih khas, hingga tidak semata untuk pengobatan tetapi menjadi kain yang terus diminati untuk busana.

Flora dan Fauna Kalimantan

Flora dan Fauna Kalimantan

kijang1 I

Kijang Kalimantan yang masih sering ditemukan di hutan

burung hantu yang disebut kukulai

Musang pandan/binatang luak

Ular Cobra Kalimantan

Tokek

Anak macan dahan yang tertangkap warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan yang menandakan satwa ini banyak banyak terdapat  di wilayah ini (foto Yan HSU)

Kita hanya tahu nama burung punai, nah inilah burung punai itu, sebab ada istilah mengharap burung terbang punai ditangan dilepaskan


Burung Peragam

 

Belibis

burung bubut

Burung kuntul

Burung Serindit

burung buburak

antiungan

Awan Misteri sebelum gempa, Mungkinkah roket dengan hulu ledak Nuklir?

Misteri awan tegak lurus kepusat gempa beberapa saat sebelum gempa terjadi, menimbulkan banyak spekulasi, mungkinkan ini bentuk serangan baru dari negara yang memiliki kemampuan untuk itu menyerang dengan roket dengan hulu ledak nuklir yang dahsyat? Mungkinkan awan tegak lurus tersebut adalah sisa asap roket dengan kendali jarak jauh. Serangan nuklir dengan kemasan gempa menghatui umat manusia,

Banyak yang melaporkan melihat awan tegak sebelum terjadi gempa, seperti Gempa / Tsunami Aceh, Gempa Yogyakarta. Kali ini, gempa jepun juga (diduga) ditandai dengan adanya awan tegak, walaupun lokasinya sangat jauh. Awan Tegak Lurus (awan gempa) sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang sangat sengit.

Tetapi alangkah lebih baiknya untuk terus mengamati fenomena-fenomena tersebut dan mengumpulkan sebanyak mungkin sehingga fenomenanya bisa dijelaskan secara ilmiah, memang hal tersebut perlu waktu tetapi ilmu pengetahun memang memerlukan waktu.

Berikut merupakan kemungkinan-kemungkinan yang masih harus diteliti lebih lanjut tentang awan gempa.

Ciri-ciri:

  • Munculnya secara tiba-tiba.
  • Muncul dari suatu titik tertentu yang posisinya tetap.
  • Bentuknya tidak biasa jika dibandingkan dengan awan hasil proses kondensasi(sirus, stratus, dan cumulus).

Peristiwa yang kemungkinan disebut awan gempa:

China muncul awan gempa pada 25 Oktober tahun 1622 terjadi gempa besar berkekuatan 7 SR di Guyuan, Provinsi Ningxia, China barat.

Pada 1978, yaitu sehari sebelum gempa Kanto di Jepang, Walikota Kyoto Kagida
melihat awan aneh yang kemudian disebut awan Kagida dan dia memperkirakan sumber gempa di titik paling tengah awan gempa, tetapi setelah beberapa tahun ( 1985) dia menduga sumber gempa berada di titik awal mula terjadinya pembentukan awan.

17 Januari 1994 muncul awan seperti asap roket di sekitar Northride, Amerika Serikat (AS). Sehari kemudian terjadi gempa.

13 Februari 1994 muncul awan berbentuk gelombang di Northride, AS, dan 20 Maret 1994 terjadi gempa besar.

31 Agustus 1994 awan berbentuk bulu ayam di Northern, California, AS. Sehari kemudian, yakni pada 1 September 1994 terjadi gempa di daerah setempat.

Awan gempa di Jepang tahun 1995, yang kemudian terjadi gempa bumi.

Awan seperti sinar terjadi di kawasan Joshua Tree, AS pada 22 Juli 1996, dan 23 harikemudian terjadi gempa.

20 Desember 2003 di langit sekitar Bam, Iran, muncul awan memanjang,empat hari kemudian terjadi gempa berkekuatan 6,8 SR.

12 Juli 2006 sebagian masyarakat di Yogyakarta melihat awan putih memanjang di langit di atas kota. Lima hari kemudian Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, diguncang gempa dan tsunami. Banyak korban manusia akibat bencana itu.

Tiga hari sebelum gempa besar mengguncang wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Klaten (Jawa Tengah) 27 Mei 2006, masyarakat sekitarnya melihat gejala alam yang aneh berupa awan yang berbentuk aneh.

Umumnya, awan-awan aneh tersebut selalu muncul sebelum terjadi gempa berkekuatan di atas 5,5 SR dengan rentang waktu 1-100 hari.

Proses terbentuknya ada beberapa kemungkinan:

Anomali perubahan medan magnet,saat aktivitas di dalam kerak bumi meningkat akibat kenaikan temperatur, muatan listrik terpolarisasi, sehingga meningkatkan konduktivitas listrik dan medan magnet, yang kemudian menyebabkan terjadi perubahan medan magnet bumi.Perubahan ini yang menarik awan ke arah bumi.

Gesekan di sumber gempa (episentrum) yang menghasilkan rekahan di dalam bumi serta menimbulkan panas dan panas yang mendidihkan air tanah sehingga menguap. Akibat temperatur dan tekanan sangat tinggi, uap air tersebut keluar melalui celah-celah rekahan ke permukaan bumi jika kondisinya memungkinkan uap air itu akan bertemu dengan udara dingin dan terbentuklah awan.

Sisa Kenangan…….

Persiapan untuk hal seperti tidak bisa juga dikatakan mudah, apalagi dengan dana seadanya. Tapi semangat untuk mengangkat Kalteng ke jenjang yang lebih bagus, kamipun sama-sama berjuang.

Walau kami cuma bisa memandang hasilnya. Cukuplah untuk mebuang penat berjuang.

Kedepan Kalteng butuh banyak pejuang. Biar tercipta banyak peluang.

Setiap malam kami begadang.  Menahan kantuk memasang plang….

Anggrek Bulan, Bunga Suci

Anggrek Bulan, salah satu tanaman anggrek species khas kalimantan yang tumbuh di pegunungan Meratus. Kini keberadaannya terancam kepunahan

Angrek bulan juga tanaman khas  endemik kalimantan. Baunya khas dan baru tercium saat malam.  sebagian masyakat kalimantan menganggapnya sebagai bunga suci

Ambulum atau anggrek kantong semar, adalah salah satu species anggrek khas kalimantan yang tumbuh di sepanjang kawasan hutan pegunungan Meratus

Wisata Susur Sungai Di Kalimantan Selatan dan Tengah

Berada di sebuah kapal yang berlayar menyusuri sungai yang jernih, membelah suasana hutan bergambut, sesekali melintas di kawasan perkampungan masyarakat Dayak, sebuah bentuk wisata baru di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Wisata susur sungai belakangan ini semakin diminati oleh warga setempat, karena unik dan khas.
Dalam perjalanan menyusuri sungai itu, wisatawan antara lain dapat menjumpai tanaman khas daerah ini, seperti rasau (jenis pandan) yang menghijau, dan berbagai satwa pulau terbesar di tanah air itu.
Satwa yang sering dijumpai melalui perjalanan di atas air ini seperti orangutan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), uwa-uawa (Hylobates sp), lutong, kera abu-abu, dan biawak.
Dari beberapa lokasi wisata susur sungai paling diandalkan bagi kepariwisataan Kalteng adalah susur Sungai Rungan-Kahayan Kota Palangkaraya, kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Provinsi Kalteng, Sadar Ardi, di Palangkaraya, Jumat.
Hampir tiap hari, ada saja rombongan pengunjung yang datang untuk menikmati wisata susur sungai.
Mereka dibawa menyusuri Sungai Rungan dan Kahayan menggunakan kapal wisata yang telah disediakan.
Kapal yang dioperasikan berbahan kayu Ulin (kayu besi) bertingkat dua memiliki kamar tidur dengan pendingin ruangan, bar, disertai ‘live’ musik serta tempat bersantai di lantai atas.
Paket wisata tersebut menawarkan objek-objek wisata alam, bukan saja melihat hutan rawa gambut, tumbuhan kayu ulin, kayu balngeran, juga ke lokasi pemancingan, atraksi burung elang, habitat orangutan di Pulau Kaja, dan situs sejarah Dayak yaitu sandung Temanggung Lawak Surapati.
Paket wisata yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu mulai Rp750 ribu untuk 10 orang, sudah termasuk suguhan makanan ringan. Biaya tergantung rute yang dipilih serta jumlah anggota rombongan, kata Sadar Ardi.
Wisata yang mulai digagas sejak 2008 itu makin diminati masyarakat. Banyak instansi yang menyuguhkan wisata ini bagi tamu mereka dari luar Kalteng.
Pengunjung lokal Kalteng juga makin banyak yang menggunakan kapal wisata susur sungai, kata Sadar Ardi.
Berdasarkan sebuah catatan, Kalteng memiliki sedikitnya sebelas sungai besar dengan panjang rata-rata ratusan kilometer, ditambah geografis dan karateristik yang kaya akan hutan tropis dan budaya.
Dengan mencermati pangsa pasar wisatawan dan mancanegara dan wisatawan nusantara yang kini mulai kecendrungan menyukai wisata petualangan maka tampaknya jenis susur sungai merupakan pilihan tepat bagi wilayah ini.
Kepala Bidang Parwisata, Disbudpar Kota Palangkaraya, Anna Menur menyatakan objek wisata susur sungai jadi ikon wisata setempat, makanya terus dipromosikan.
Promosi wisata susur sungai bukan saja melalui media massa, cetak maupun elektronik, tetapi juga melalui biro perjalanan, bahkan ke agen-agen penerbangan.
Pihak Pemko Palangkaraya melalui Disbudpar kini mencetak ratusan bahkan ribuan eksemplar buku saku kepawisataan Palangaraya yang di antaranya mempromosikan wisata susur sungai tersebut.
Selain itu, Pemko juga menerbitkan brosur, pamflet mengenai wisata susur sungai.
Susur sungai dirancang bagi wisatawan yang mencintai alam linkungai serta kehidupan sungai di wilayah Kalteng, khususnya di Palangkaraya.
“Bila anda ke kota kami, kota cantik Palangkaraya tidak akan terasa lengkap tanpa adanya sensasi petualangan susur sungai, di mana anda dapat menyaksikan alam pulau Kalimantan yang sungguh eksotis,” kata Anna Menur.
Aida Meyarti,SH dari Dinas Pariwisata Kalteng mengatakan, selain susur sungai Rungan-Kahayan juga kini dipromosikan susur sungai Sekonyer di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Sungai Sekonyer jalur sungai ke areal Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), yang di dalamnya terdapat lokasi rehabilitasi satwa langka orangutan.
Kelebihan Sungai Sekonyer lantaran miliki pemandangan alam lingkungan yang indah juga di sana terdapat spesies binatang yang unik dan menarik.
Seperti di Sungai Kumai bagian dari jalur Sungai Sekonyer terdapat jenis pesut, selain itu juga terdapat satwa yang disebut masyarakat setempat sebagai satwa dugong-dugong.
Dugong-dugong juga dikenal sebagai sapi laut, karena habitatnya adalah diareal rumput laut di muara sungai.
Selain itu perjalanan jalur Sungai sekonyer dengan kelotok (perahu motor tempel) wisata, perjalanan akan melalui kawasan mangrove didominasi pohon bakau (Rhizophora spp), pohon pidada (Sonneratia spp) yang menumbuhkan akar napas (pneumatophore).
Pohon lain dijalur wisata itu kendeka (Bruguiera spp), serta pohon nirih (Xylocarpus spp).
Mengutip sebuah catatan, Sungai Buaya adalah nama asli Sungai Sekonyer, nama Sikonyer diambil dari nama sebuah kapal yaitu kapal Sikuner. Nama asli kapal tersebut diubah berdasarkan bahasa Melayu menjadi Sekonyer.
Ceritanya, pada masa kolonial Belanda di muara Sungai Buaya berlabuhlah sebuah kapal perompak atau bajak laut.
Kapal itu tenggelam tepat di muara Sungai Buaya ditembak oleh seorang bernama Bujang dengan sebuah meriam kecil bernama “palembang” milik seorang tokoh agama Islam, “Kyai Gede.”
Meriam hanya dapat ditembakkan oleh keturunan Kyai Gede atau salah seorang suku keturunan Dayak Gambu, oleh penduduk sekitar kemudian nama Sekonyer ini sering dipakai untuk menyebut nama asli dari Sungai Buaya itu.
Perjalanan jalur sungai ini kemudian menemui kawasan tanaman nipah (Nypa fruticans Wurmb) lalu kawasan pohon rasau, kemudian terus ke Tanjung Harapan Desa Sekonyer, Pesalat tempat pendidikan konservasi, wisata Pondok Tanggui, Pondok Ambung, Muara Ali, Danau Panjang hingga camp Leakey lokasi rehabilitasi orangutan.
Guna menanamkan lagi kecintaan masyarakat Kalteng dan Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap angkutan air itu, maka sebuah harian yang terbit di Banjarmasin, yakni Banjarmasin Post menggelar kegiatan susur sungai Barito-Kahayan.
Kegiatan ini menurut tulisan di harian tersebut untuk melestarikan budaya sungai yang mulai ditinggalkan masyarakat Kalsel dan Kalteng karena perkembangan transportasi darat dan udara.
Selain itu, Banjarmasin Post ingin mengajak warga di dua provinsi bertetangga ini mengingat kembali sejarah transportasi di dua sungai utama tersebut.
Barito dan Kahayan merupakan urat nadi masyarakat Kalsel dan Kalteng sejak masa penjajahan. Apalagi, sejak kedua sungai dihubungkan oleh sejumlah anjir (kanal) seperti Anjir Serapat.
Kedua sungai ini memang memiliki sejarah sebagai jalur perdagangan kedua provinsi, kata Aida..
Pada era era 50-an, banyak saudagar Banjarmasin membawa barang ke daerah hulu Sungai Barito dan Kahayan. Selanjutnya dari hulu sungai, mereka membawa bahan-bahan alam seperti rotan ke Banjarmasin. Rute ini ini mereka lalui selama berhari-hari.
Ini tidak hanya dilakukan pedagang dari Banjarmasin, tetapi juga dari hulu Sungai Kahayan dan Barito. Biasanya mereka berlabuh di tepian Sungai Martapura Banjarmasin.
Selain tinggal di kapal, mereka biasanya menginap di Hotel Sinar Amandit dan Mess Candi Agung yang ada di tepi Sungai Martapura.

Burung Khas Kalimantan

Burung Enggang atau Burung Rangkong adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya “Buceros” merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti “tanduk sapi” dalam Bahasa Yunani.

Di antara semua jenis burung enggang/burung rangkong, enggang gading (Buceros vigil) adalah yang terbesar ukurannya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yg menutup bagian dahinya. Warna tanduk merah pada bagian yang dekat dengan kepala, kuning gading pada sisanya. Ciri ini yang memberikan namanya. Ekor sangat panjang sampai dua kali panjang tubuhnya seluruhnya dapat mencapai 1,5 m, terbangnya kuat dengan mengeluarkan bunyi hempasan sayap. Bertengger di pohon yang tinggi, burung ini sering menimbulkan suara yang ramai di tengah hutan. Makanannya buah-buahan terutama buah beringin dan palem, tapi tidak jarang juga makan serangga, tikus, kadal bahkan burung kecil.

Burung ini tersebar di Kalimantan dan Sumatera sampai ketinggian 1.500 m di atas permukaan taut. Burung ini membutuhkan habitat yang berupa hutan dengan pepohonan yang tinggi yaitu di hutan tropika yang tidak terganggu, yang masih utuh. Pelestarian Enggang Gading menunjukkan pelestarian hutan tropika. Di dalam hutan ia selalu bertengger pada pohon-pohon tertinggi, sambil kadang-kadang ia terbang ke pohon-pohon yang rendah untuk mendapatkan makanan.

Burung enggang bertelur sebanyak enam biji telur dan dierami di dalam sarang. Sarang burung enggang terbuat dari kotoran dan kulit buah. Hanya terdapat satu bukaan kecil yang cukup untuk burung jantan mengulurkan makanan kepada anak burung dan burung enggang betina. Jika telur telah menetas dan anak burung semakin dewasa, maka sarang tidak akan cukup untuk menampung anak dan burung enggang betina. Burung betina akan memecahkan sarang untuk keluar dan membangun lagi dinding tersebut dan kemudian membantu burung jantan untuk mencari makanan bagi anak-anak burung.

Sebagai Lambang Budaya

Dalam budaya Kalimantan, burung enggang (tingan) merupakan simbol “Alam Atas” yaitu alam kedewataan yang bersifat “maskulin”. Di Pulau Kalimantan, burung enggang sakti digunakan sebagai lambang daerah atau symbol. Burung enggang diwujudkan dalam bentuk ukiran pada Budaya Dayak, sedangkan dalam budaya Banjar, burung enggang diukir dalam bentuk tersamar (didistilir) karena Budaya Banjar tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang melarang adanya ukiran makhluk bernyawa.

Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. dikenal sebagai panglima perang Dayak yakni Panglima Burung.

Menurut kepercayaan masyarakat Dayak, Panglima Burung adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran, sakti dan kebal. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual.

Penghargaan masyarakat dayak terhadap burung enggang sebagai suatu symbol yang diagungkan tercermin dalam budaya masyarakat Dayak berupa tarian tradisional yang diberi nama tari burung enggang atau Tari Kancet Lasan (Sebutan masyarakat dayak Kenyah). Tari ini menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

Diposkan oleh di 23:35

Kayu berumur seribu tahun ada di Kalimantan

Ulin atau disebut juga dengan bulian, belian atau kayu besi merupakan tanaman khas Kalimantan. Ulin tersebar luas hampir di seluruh kawasan hutan Kalimantan. Umur kayu ulin dapat mencapai lebih dari 1.000 tahun. Nama ilmiah untuk ulin adalah Eusideroxylon zwageri.

Ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm. Ciri utama ulin adalah batangnya yang lurus dengan banir yang tumbuh tidak secara melingkar. Kulit pohonnya licin, berwarna kuning atau kelabu muda. Ulin yang sudah dipotong akan menghitam jika lama terendam air. Tekstur kayunya kasar, sangat keras sehingga sulit digergaji, dan baunya aromatis. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Sifat kayu Ulin sangat berat dan keras serta tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban dan pengaruh air laut. Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan topografi datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran namun sangat jarang dijumpai di habitat rawa-rawa.

Pohon Ulin memperbanyak diri dengan buah dan biji. Perkecambahan biji Ulin membutuhkan waktu cukup lama sekitar 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon umumnya juga sedikit. Penyebaran permudaan alam secara umum cenderung mengelompok. Ulin bisa tumbuh dengan baik pada tanah berpasir. Meskipun menyukai udara lembab, ulin bisa tumbuh di daerah kering. Hingga umur 3 tahun, ulin tidak memerlukan banyak cahaya. Kemudian, setelah dewasa membutuhkan cahaya matahari penuh.

Masyarakat umumnya memanfaatkan kayu ulin sebagai bagian utama dari tiang, lantai rumah, pagar, patok tanah dan atap sirap. Kayu ulin mempunyai keistimewaan yang khas yaitu selain keras, berat, juga tidak lapuk terkena air serta tahan terhadap serangan rayap. Selain itu, ulin juga dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, tempat tidur dan perabot rumah tangga.

Diposkan oleh di 19:39

GUMBILI NAGARA, UBI RAKSASA DARI KALSEL

gumbili1 Jangan heran jika ke Kalimantan Selatan melihat ubi raksasa sebesar kepala kerbau. Itulah gumbili nagara (Ipomoea batatas L), yakni ubi jalar khas Kalimantan Selatan.

Dijuluki ubi raksasa karena gumbili nagara yang sejenis ubi jalar ini ukurannya bisa sebesar semangka, berbentuk lonjong tak beraturan, beratnya bisa mencapai empat sampai tujuh kilogram!

Namun, bukan cuma ukurannya yang istimewa. Gumbili nagara rasanya enak. Jika digoreng, rasanya renyah, empuk, dan kandungan airnya tidak berlebihan. Adapun kandungan tepungnya tinggi dan tahan disimpan selama dua bulan.

Dari sisi ekonomi, gumbili nagara sangat menguntungkan karena masa panennya setiap empat bulan, sedangkan produksinya bisa sekitar 20-60 ton per hektar (ha). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ubi jalar biasa yang produksinya maksimal 50 ton per hektar.

Uniknya, gumbili nagara ini hanya bisa dibudidayakan di sekitar perairan rawa Sungai Nagara, terutama di Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Dari 35.247 ha lahan pertanian di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 9.000 ha di antaranya berada di daerah paling subur Kecamatan Daha Utara. Di kecamatan ini komoditas yang menjadi unggulan adalah gumbili nagara.

Umumnya, gumbili nagara ini digoreng, baik dengan tepung maupun tidak, ataupun direbus. Makanan ini populer di sekitar Nagara, Kandangan, Banjarmasin. Selain populer di masyarakat Kalsel, gumbili nagara juga ”diekspor” hingga ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Tidak diperoleh keterangan tentang total produksi gumbili nagara dalam setiap panen. Petani hanya menanam gumbili pada saat musim kemarau ketika kawasan rawa menjadi daratan, bersama tanaman semangka, jagung, dan cabai.

Akhmad Rijali Saidy, pengajar Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat di Banjarbaru, memaparkan berdasarkan penelitiannya ada empat jenis gumbili nagara, yakni gumbili kai lama dan kai baru, gumbili habang, serta terakhir gumbili biru.

Gumbili kai lama dan kai baru warna ubinya putih, sedangkan gumbili habang warna ubinya merah ke kuning-kuningan. Adapun gumbili biru, sesuai namanya, warna ubinya biru ke ungu-unguan.

Hidup di rawa

Luar biasa! Itulah kata-kata paling tepat untuk menggambarkan cara bertani di areal pertanian rawa perairan Sungai Nagara, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Warga di daerah ini yang memilih pekerjaan bertani gumbili nagara lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kehidupan alam di kawasan rawa. Maka, tak heran jika mendatangi rumah-rumah petani di kecamatan itu banyak rumah yang kosong.

Para petani selama sepekan penuh berada di pahumaan (areal pertanian atau kebun). Untuk menemui mereka, tamu harus menunggu mereka kembali pada Kamis atau Jumat.

”Para petani itu pulang hanya untuk shalat Jumat, sekaligus menyiapkan bekal selama sepekan tinggal di lapau atau gubuk di kebun,” tutur Yuseran, warga Kecamatan Daha Utara.

Lokasi mereka bertani juga tidak mudah dijangkau karena tidak bisa dicapai dengan kendaraan darat seperti sepeda motor atau mobil. Satu-satunya transportasi yang bisa digunakan adalah jukung atau perahu kecil bermesin yang dikenal dengan jukung ces.

Meskipun area pertanian mereka jaraknya kurang dari 10 kilometer, namun untuk mencapainya memakan waktu 1,5 jam karena menggunakan jukung atau perahu kayu berkapasitas tiga orang yang hanya berkekuatan mesin 16 PK.

Kompas yang berkesempatan mendatangi area pahumaan gumbili nagara pada ray (istilah yang dipakai untuk menyebut kanal atau kali kecil) 10 dengan jukung ces, tidak menyangka daerah itu merupakan areal pertanian. Di daerah itu ada sekitar 20 ray dengan panjang tiga hingga lima pal (kilometer) dan lebarnya sekitar dua meter. Sepanjang mata memandang kiri dan kanan ray-ray di daerah itu yang terlihat hanyalah hamparan kumpai (padang rumput yang tebal) serta semak belukar.

Kegiatan pertanian baru terasa ketika terlihat lapau atau gubuk-gubuk milik para petani. Gubuk tersebut dibangun seperti rumah panggung setinggi dua meter. Tujuannya, kalau musim hujan dan rawa tergenang, lapau-lapau itu berubah menjadi tempat mereka memasang berbagai alat tangkap ikan. Pada sebuah persimpangan ray 10 tertulis, pada Senin warga petani diminta turun bergotong royong.

Setelah memarkir jukung di parit kecil, barulah terlihat tanaman pertanian seperti cabai merah, jagung, kacang tanah, waluh, kacang tanah, dan kundur. Adapun tanaman gumbili nagara hampir menutupi seluruh pahumaan.

Alamiah

Berbeda bertani ubi jalar di Jawa yang sebelum ditanam, terlebih dahulu rumputnya dibersihkan dan tanahnya diolah sehingga gembur. Untuk mengolah tanah, mereka hanya melakukan manguit atau dikikih (membongkar dengan tangan) tanah dan manyepak atau tinjak (sepak atau injak dengan kaki untuk mengetahui besaran ubinya) dalam tanah.

Untuk bisa bahuma (bertani) cepat, para petani biasanya terlebih dahulu maupahakan (mengupah) sekitar 10 orang per satu hektar untuk membersihkan kumpai dan semak belukar. Kumpai-kumpai yang mereka bersihkan tidak dibuang, tetapi dibiarkan hingga kering. Tujuannya, selain untuk melindungi ubi dari sengatan matahari juga menahan tanah tidak cepat kering. Setelah itu, mereka membuat tukungan (lajur pematang) untuk menanam bibit gumbili dengan jarak sekitar 1,5 meter.

Layaknya teknik pertanian organik, bertani gumbili nagara sampai sekarang masih bertahan dengan cara alamiah, artinya tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan. Kalaupun memakai obat, itu hanya dilakukan saat mengalami serangan hama ulat. Serangan hama babi, mereka atasi dengan menyalakan lampu minyak atau menyirami air seni manusia ke seluruh pematang kebun. ”Air seni itu dikumpulkan. Babi hutan ternyata tidak berani datang selama 10 hari karena mencium air seni manusia,” ungkap Yuseran.

Petani terkadang mengalami kerugian besar kalau muncul serangan hama tikus. Untuk hama yang satu ini, para petani masih kesulitan memberantasnya. Para petani biasanya mengatasi dengan cara menanam gumbili nagara secara bersamaan atau menanam jagung bibit lokal setempat. Tujuannya agar tikus hanya akan memilih tanaman jagung.

”Petani tidak sanggup memberantas hama tikus karena jumlah mereka sangat banyak, sedangkan tenaga petani sangat terbatas,” ujar Yuseran pula.

Produksi gumbili nagara selama ini selalu melimpah. Petani mengeluh, pada saat produksi melimpah harganya jatuh. Harga di tingkat petani saat ini cuma Rp 625 per kg. Padahal di Banjarmasin, ibu kota Kalsel, harganya sekitar Rp 2.500 per kg.

”Keuntungan pedagang dan tengkulak terlalu besar, sedangkan petani menikmati harga yang sangat rendah,” tutur Halidi, petani Daha Utara.

Petani berharap, panen gumbili nagara kali ini harganya bisa di atas Rp 1.000 per kg atau Rp 2.000 per lajur.

Saat ini musim panen sedang berlangsung. Di beberapa lokasi terlihat hasil panen gumbili nagara itu ditumpuk begitu saja di ray atau ujung kanal tanpa khawatir bakal dicuri. Keesokan paginya, barulah gumbili nagara itu mereka angkut ke pasar di Nagara, ibu kota Kecamatan Daha Utara. Dari sanalah ubi jalar yang diwariskan turun-temurun dari bekas kerajaan Negara Dipa itu menyebar ke daerah Kalsel lainnya, ke Kaltim serta Kalteng.

Akhmad Rijali Saidy mengemukakan, pemerintah daerah mestinya turun tangan membantu petani gumbili nagara sebab petanilah yang sebenarnya telah menjaga kelestarian ubi raksasa gumbili nagara.(MUHAMMAD SYAIFULAH)

VANDA DEAREI MASKOT PAI KALSEL

Vanda Dearei adalah merupakan salah satu anggrek endemi Pulau Kalimantan. Anggrek ini banyak dijumpai dipegunungan Meratus. Ekologi habitanya menempel dibatang pohon besar. Vanda Deari mengeluarkan aroma harum yang menawan. Ukuran bunga antara 4 – 5 cm, dengan beberapa cabang tangkai bunga.Atas usul Sdr. Yulianto, SP, Vanda Dearie dijadikan maskot PAI Kalsel, dan beliau pulalah yang merancang seragam PAI Kalsel dengan dihiasi ornamen bunga Vanda Dearie berbahan kain sasirangan, yang juga merupakan kain khas Kalimantan Selatan.


Vanda Dearei koleksi Taman Anggrek Alam Kalimantan, milik Hj. Erna Ardiansyah.