SARIGADING, tenun khas kalsel nilai seni budaya dan nilai spritualnya

Oleh Hasan Zainuddin
Banjarmasin, 6/3 (ANTARA)  Berbagai cara dilakukan untuk pengobatan bagi masyarakat pedesaan, khususnya di berbagai wilayah pedalaman Kalimantan Selatan, diaantaranya memanfaatkan sebuah kain tenun. Kain tenun yang khusus untuk obat itu dipakai maka dipercayai menyembuhkan suatu penyakit yang sulit disembuhkan melalui medis, itulah sebuah kepercayaan masyarakat khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Kain tenun yang disebut Sarigading, bagi sebagian orang yang dipercayai begitu ampuhnya mengobati penyakit yang dianggap sulit disembuhkan.
“Penyakit yang dianggap tak bisa disembuhkan secara medis tersebut adalah penyakit yang dianggap karena keturunan, makanya pengobatannya harus menggunakan kain tenun Sarigading,” kata Noor Saidah seorang pembuat kain tenun Sarigading.
Saidah mengaku sering kedatangan tamu yang minta dibuatkan kain sarigading sebagai syarat untuk penyembuhan penyakit, meski dia sendiri tidak tahu ikhwal mengapa kain tenun ini bisa menjadi syarat berobat.
“Mereka mengaku sembuh setelah memakai kain tenun saya” ujar Noor Saidah.
Namun yang pasti hanya orang tertentu saja yang menggunakan kain tenun Sarigading ini sebagai media berobat oleh sebab leluhur mereka dulu juga menggunakan kain ini,tambahnya.
Ia mengakui kegiatan menenun Kain Sarigading sudah diwarisi keluarganya sejak enam generasi berawal pada Penjajahan Jepang.


Kala itu cerita Saidah Jepang melarang masyarakat HSU menggunakan kain tekstil sehingga mendorong masyarakat menenun kain sendiri secara sembunyi sembunyi.
“Bila tidak membuat kain tenun sendiri warga kala itu terpaksa menggunakan bahan seadanya untuk menutupi tubuh mereka” tutur Saidah.      Untungnya, lanjut dia, kegiatan tenun menenun kain ini sudah diwarisi Masyarakat HSU sejak zaman Kerajaan Negara Dipa abad 16 Masehi, meski sempat mundur kala Kolonial Belanda memperkenalkan produk kain tekstil.
Kain Sarigading, kata dia menggunakan Benang Mandar yang dicelup menggunakan pewarna alami, misal dari jenar (kunyit) dan lainnya.
“Semakin bermotif, kain Sarigading semakin mahal” kata Saidah yang ahli membuat Kain Sari Gading aneka motif dan lima warna, dimana harga Kain bermotif ia jual Rp100 ribu per potong, jika tanpa motif Rp70 ribu per potong.
Kain Sarigading yang hanya satu warna kuning menurutnya kini sudah seberapa laku, yang eksis dicari orang adalah Kain Sarigading lima warna yang bermotif.
Saidah mengaku, kain tenunnya dan peralatan tenunnya pernah diminta pihak Museum Propinsi Kalsel Kota Banjar Baru untuk dijadikan koleksi budaya.
Karena Pemprop Kalsel juga mulai menyadari mulai langkanya hasil tenun kain jenis ini yang harus tetap dilestarikan.
Hanya saja katanya,  kain tenun Sarigading khas Kabupaten Hulu Sungai Utara HSU Kalimantan Selatan belakangan ini terancam punah, karena itu diperlukan perhatian pemerintah untuk menyelamatklan kerajinan tersebut.
Kain tenun Sarigading HSU mulai dilupakan setelah kian derasnya masuk produk kain tekstil luar, kata  Noor Saidah Penenun kain Sarigading di Desa Sungai Tabukan.
Para pelaku keraijnan kain tenun inipun kini tersia hanya di dua desa, yaitu Desa Pandulangan Kecamatan Sungai Pandan-Alabio dan Desa Sungai Tabukan di Kecamatan Sungai Tabukan.
Kain tenun Sarigading menjadi langka karena fungsi kain tenun ini kebanyakan hanya dikembangkan untuk peralatan prosesi pengobatan tradisonal yang diwarisi turun-temurun dan bukan untuk tujuan komersil.
Berdasarkan catatan, bagi masyarakat Kalimantan Selatan selain memanfaatkan kain tenun Sarigading untuk pengobatan juga yang lebih terkenal adalah kain khas Sasirangan.
Menurut Muhamad seorang tokoh masyarakat Banjarmasin kain sasirangan lebih banyak digunakan untuk pengobatan karena dulu sering dipakai dalam pengobatan pihak kerajaan Banjar.
Tetapi nasib kain Sasirangan lebih beruntung ketimbang kain tenun Sarigading, setelah dimodifikasi sedemikian rupa maka kain Sasirangan menjadi batik khas Kalsel dan sekarang menjadi ikon cenderamata wisatawan ke wilayah ini.
Setelah kian dimintai maka kain Sasirangan terus berkembang bahkan industri kain inipun kian maju pula dengan lokasi -lokasi penjualan yang terus menjamur di wilayah Banjarmasin dan kota lainnya.
Melihat kenyataan tersebut hendaknya pemerintah terus mempertahankan budaya kain tenun itu, setidaknya untuk kain tenun Sarigading kalau bisa juga dimodifikasi yang lebih khas, hingga tidak semata untuk pengobatan tetapi menjadi kain yang terus diminati untuk busana.

Tags: , , ,

About MTFirdaus

---Jurnalis---

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: